

KABAR SRIKANDI, PRACIMANTORO- Hari Tani bukan hanya acara tahunan. Ini momen untuk bertanya: apakah petani masih punya masa depan? Di Pracimantoro, petani berkumpul lewat Genduren Gunungsewu. Mereka bersyukur dan merayakan kebersamaan lewat tradisi Wayang Beber.
Bertani di daerah karst itu susah. Tanah tipis, air sulit, musim tidak pasti. Tapi petani tetap menanam, karena tanah adalah sumber hidup dan warisan untuk anak cucu.
Sekarang ada masalah baru. Saat pertanian mulai dimudahkan, lahan justru terancam hilang jadi kawasan industri. Kalau sawah hilang, petani kehilangan pekerjaan dan sumber makannya.
Jangan lihat tanah hanya dari harga jualnya. Tanah itu nilainya panjang. Dari tanah, keluarga bisa makan, bisa kerja, dan warga desa tetap guyub.
Masalah ini tidak hanya di Pracimantoro. Di banyak daerah Jateng, warga juga berjuang mempertahankan tempat tinggalnya.
Karena itu ada gerakan Jateng Guyub. Pada 22-24 September 2026, warga dari berbagai daerah akan berkumpul menyuarakan keresahannya.
Petani Pracimantoro ikut Jateng Guyub untuk membawa cerita dari desanya. Cerita tentang susahnya bertani di karst dan pentingnya menjaga air dan lahan. Cerita ini harus didengar pemerintah.
Pesan Hari Tani kali ini simpel: jangan korbankan petani atas nama pembangunan. Selagi petani punya tanah, mereka punya harapan untuk masa depan. Menjaga tanah berarti menjaga kehidupan.
Suryanto Perment – Paguyuban Tali Jiwa Pracimantoro





